E22:reisya zulfa syahida

 Judul: Membangun Harmoni di Lingkungan Warga Sekitar: Interaksi Warga Beragam di

Era Digital

Lokasi Observasi: Jl. KH Dewantoro Gg. Utan Kenanga, Cipondoh, Tangerang Kota

(Pendahuluan)

Saya memilih lingkungan warga sekitar sebagai lokasi observasi karena lingkungan ini terdiri

dari beragam latar belakang sosial, suku, dan agama. Lingkungan ini mayoritas beragama Islam, namun ada juga beberapa warga yang beragama non-Islam. Mereka berasal dari beragam latar belakang suku Jawa, Betawi, Sunda, Batak, dan Madura. Tujuan saya melakukan observasi ini adalah untuk memahami bagaimana warga yang berbeda latar belakang dapat berinteraksi secara harmonis dan membangun semangat integrasi nasional dalam kehidupan sehari-hari.

(Temuan Observasi)

Contoh Positif:

- Setiap satu bulan sekali, warga sekitar rutin melakukan kerja bakti membersihkan taman dan saluran air tanpa memandang latar belakang. Ketua RT, Pak Adi (Jawa), sering memberi arahan

bersama Bu Syaroh (Madura) yang mengoordinasi konsumsi, menunjukkan kerja sama lintas etnis yang kuat.

- Saat perayaan Idul Fitri, warga non-Muslim turut membantu menjaga keamanan lingkungan

dan bahkan ikut hadir dalam acara halal bihalal bersama. Sebaliknya, ketika perayaan Natal,

beberapa warga Muslim juga ikut membantu mendekorasi balai warga.

- Di grup WhatsApp warga sekitar, warga saling mengingatkan tentang keamanan dan kegiatan

sosial dengan sopan, menunjukkan komunikasi yang sehat di ruang digital.

Contoh Negatif:

- Pernah muncul perbedaan pendapat di grup WhatsApp mengenai rencana iuran kebersihan.

Beberapa warga menolak dengan alasan ekonomi, sementara lainnya menilai itu kurang tanggung jawab. Meskipun sempat menegangkan, ketua RT akhirnya menengahi dengan baik.

- Ada kecenderungan anak-anak remaja di lingkungan tersebut membentuk kelompok bermain berdasarkan kesamaan latar belakang sekolah, membuat sebagian anak lain merasa agak tersisih.

(Analisis)

Dari hasil observasi, praktik gotong royong dan perayaan lintas agama di lingkungan warga sekitar menunjukkan adanya integrasi sosial horizontal (Myron Weiner), yaitu bentuk persatuan antarindividu yang berbeda latar belakang melalui interaksi dan kepentingan bersama. Kegiatan rutin seperti kerja bakti menjadi wadah efektif untuk membangun rasa memiliki dan kebersamaan. Namun, ketegangan kecil di grup WhatsApp dan kelompok bermain remaja menunjukkan adanya potensi disintegrasi akibat perbedaan pandangan dan kurangnya komunikasi terbuka. Fenomena ini bisa dijelaskan dengan teori polarisasi sosial, di mana perbedaan kecil dapat berkembang bila tidak diimbangi empati dan dialog. Faktor pemersatu yang paling kuat di lingkungan ini adalah kepedulian bersama terhadap kebersihan dan

keamanan, serta figur pemimpin yang adil dan inklusif dalam mengambil keputusan.

(Refleksi Diri & Pembelajaran)Melalui observasi ini, saya belajar bahwa menjaga persatuan bukan hanya tanggung jawab

pemerintah, tetapi juga setiap individu di lingkungan terkecil. Saya menyadari bahwa selama ini saya cenderung menjadi pengamat pasif, padahal sebagai generasi muda, saya dapat berperan aktif, misalnya dengan membantu mengelola media sosial warga agar menjadi ruang komunikasi yang positif. Saya juga belajar pentingnya menghargai perbedaan pendapat tanpa menimbulkan konflik. Keragaman seharusnya menjadi kekuatan untuk saling belajar, bukan pemisah.

(Kesimpulan & Rekomendasi)

Integrasi nasional dapat diwujudkan melalui praktik sederhana seperti gotong royong, dialog terbuka, dan saling menghormati di lingkungan sekitar. Dari observasi ini saya memahami bahwa harmoni sosial tumbuh dari interaksi yang saling menghargai dan kepemimpinan yang bijak.

Rekomendasi:

1. Mengadakan “Hari Kebersamaan Warga” setiap dua bulan sekali, berisi lomba, bazar kecil, dan diskusi ringan untuk mempererat hubungan antarwarga.

2. Membentuk tim kecil remaja warga sekitar untuk membantu mengelola media sosial warga agar tetap positif dan bebas dari ujaran negatif.

Referensi:

- Weiner, Myron. (1965). Political Integration and Political Development. Princeton University

Press.

- LIPI. (2020). Laporan Riset tentang Polarisasi Sosial di Indonesia.

- Undang-Undang Dasar 1945

Komentar

Postingan Populer