E22: Reisya zulfa syahida

 Refleksi Integritas dan Kejujuran dalam Kehidupan Akademik dan Sosial

Pendahuluan

Integritas merupakan nilai fundamental yang menentukan kualitas seseorang, tidak hanya dalam kehidupan profesional, tetapi juga dalam proses pembentukan karakter selama menempuh pendidikan. Bagi seorang mahasiswa, integritas tidak sekadar berarti mematuhi aturan kampus, tetapi juga mencerminkan komitmen moral terhadap kejujuran, tanggung jawab, dan konsistensi antara nilai yang diyakini dengan tindakan nyata. Dalam dunia akademik yang sarat dengan tuntutan prestasi, godaan untuk mengabaikan integritas sering kali muncul dalam berbagai bentuk. Oleh karena itu, refleksi mengenai makna dan praktik kejujuran menjadi penting agar mahasiswa tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara etis.

Refleksi Integritas dalam Lingkungan Akademik

Selama menjalani perkuliahan, saya menyadari bahwa integritas sering diuji dalam situasi-situasi yang tampak sepele. Misalnya, ketika menghadapi tenggat waktu yang ketat, muncul godaan untuk menyalin tugas teman, melakukan plagiarisme ringan, atau sekadar “titip absen” demi menghindari konsekuensi akademik. Situasi semacam ini kerap dianggap wajar oleh sebagian mahasiswa, seolah menjadi budaya yang dimaklumi bersama.

Namun, saya menyadari bahwa tindakan-tindakan kecil tersebut memiliki dampak besar terhadap pembentukan karakter. Ketika seseorang mulai membenarkan ketidakjujuran kecil, batas moral akan semakin kabur. Integritas bukan hanya diuji saat menghadapi pilihan besar, tetapi justru ketika kita berada pada kondisi tertekan dan memiliki kesempatan untuk berbuat curang tanpa diketahui orang lain. Dalam momen seperti itulah nilai kejujuran benar-benar diuji.

Pengalaman menyelesaikan tugas secara mandiri, meskipun hasilnya tidak sempurna, justru memberikan kepuasan moral tersendiri. Dari situ saya belajar bahwa proses belajar jauh lebih bermakna dibandingkan sekadar hasil akademik. Integritas membentuk kepercayaan diri yang tidak bergantung pada pengakuan semu, melainkan pada kesadaran bahwa usaha yang dilakukan adalah jujur.

Integritas dalam Konteks Sosial dan Realitas Masyarakat

Di luar lingkungan kampus, tantangan integritas justru tampak lebih kompleks. Dalam kehidupan bermasyarakat, praktik ketidakjujuran sering kali terlihat dalam bentuk korupsi, manipulasi informasi, hingga penyebaran hoaks. Fenomena ini menunjukkan bahwa krisis integritas bukan hanya masalah individu, melainkan persoalan struktural yang telah mengakar.

Korupsi, misalnya, sering terjadi karena adanya pembenaran kolektif bahwa tindakan tersebut adalah hal “biasa” atau “sudah sistemnya begitu”. Ketika integritas tidak lagi menjadi nilai utama, kepentingan pribadi atau kelompok cenderung mengalahkan kepentingan publik. Hal ini berdampak langsung pada menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara serta memperlebar kesenjangan sosial.

Sebagai mahasiswa, saya menyadari bahwa sikap apatis terhadap fenomena tersebut justru memperpanjang rantai masalah. Integritas tidak hanya diuji ketika seseorang memiliki kekuasaan, tetapi juga ketika ia bersikap terhadap ketidakadilan di sekitarnya. Sikap kritis, keberanian menyuarakan kebenaran, dan menolak normalisasi kebohongan merupakan bentuk tanggung jawab moral sebagai bagian dari masyarakat intelektual.

Komitmen Pribadi dan Rencana Tindakan

Menyadari pentingnya integritas dalam kehidupan akademik dan sosial, saya berkomitmen untuk menjadikannya sebagai prinsip utama dalam setiap peran yang saya jalani. Secara konkret, saya berupaya untuk selalu bersikap jujur dalam proses belajar, menghindari plagiarisme, serta menghargai proses akademik meskipun hasil yang diperoleh tidak selalu sempurna.

Ke depan, ketika memasuki dunia kerja, saya berkomitmen untuk menjaga profesionalisme dengan tidak menyalahgunakan wewenang, berani menolak praktik tidak etis, serta berupaya membangun budaya kerja yang transparan. Saya percaya bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang konsisten.

Pada akhirnya, integritas bukanlah nilai yang lahir dari pengawasan, melainkan dari kesadaran diri. Dengan menjaga kejujuran dalam hal-hal kecil, saya berharap dapat berkontribusi pada terciptanya lingkungan sosial yang lebih adil, beretika, dan beradab.

Komentar

Postingan Populer